SEJARAH BERDIRINYA SMP PANGERAN DIPONEGORO
Melawan Arus, Menjemput Masa Depan: Sebuah Manifesto Pendidikan di Giritirto
Sejarah SMP Pangeran Diponegoro bukan sekadar catatan tentang berdirinya sebuah gedung, melainkan sebuah epik perjuangan kemanusiaan yang berhasil mengubah nasib generasi muda di Giritirto. Berdiri pada tahun 2002, sekolah ini lahir sebagai jawaban atas kegelisahan para tokoh masyarakat terhadap sulitnya akses pendidikan saat itu.
Medan Perjuangan yang Berat Di awal era 2000-an, pendidikan adalah jalan yang terjal bagi anak-anak Giritirto. Mereka harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer demi mencapai titik transportasi, bahkan harus menyeberangi sungai. Beratnya medan ini memadamkan semangat belajar; banyak lulusan SD yang akhirnya memilih untuk langsung merantau ke Jakarta demi bekerja sebagai buruh kasar daripada harus berjuang melawan alam hanya untuk bersekolah.
Sinergi Tokoh dan Visi "Memanggil Pulang" Melihat fenomena tersebut, Bapak Bambang Sutrisno, S.E., yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa Giritirto periode kedua, mengambil langkah berani bersama para tokoh sepuh. Mereka memulai misi "memanggil pulang" anak-anak yang sudah berada di Jakarta, meyakinkan mereka bahwa sekolah kini hadir di dekat rumah.
Langkah strategis ini diperkuat oleh peran Bapak Keriyono, S.Pd., seorang pendidik yang ikut berjuang sejak awal. Sinergi antara kebijakan visioner Bapak Bambang dan dedikasi profesional Bapak Keriyono menjadi kunci lahirnya sekolah ini di bawah naungan Yayasan Nurul Huda.
Estafet Kepemimpinan Keberlanjutan visi sekolah dijaga melalui dedikasi para Kepala Sekolah yang memimpin dengan hati. Perjuangan awal pembangunan dipimpin oleh Bapak Sodimun, S.Ag. sebagai Kepala Sekolah pertama. Tongkat estafet kemudian dilanjutkan oleh Bapak Rislam, S.Pd.I., dan kini semangat kemajuan tersebut diteruskan di bawah kepemimpinan Ibu Septika Wahyuni, S.Pd.Gr.
Dampak Nyata: Perubahan Wajah Generasi Kehadiran sekolah ini membawa perubahan revolusioner. Sebelum tahun 2002, jumlah lulusan SMP di wilayah seperti Dukuh Plipitan dan Dukuh Era sangatlah minim dan bisa dihitung dengan jari. Saat itu, hanya Dukuh Lokidang dan Dukuh Kedunglo yang memiliki tradisi kuat melanjutkan pendidikan.
Namun kini, wajah Giritirto telah berubah total. Anak-anak dari seluruh pelosok desa tidak hanya lulus SMP, tetapi kini berbondong-bondong meraih pendidikan SMA/SMK, bahkan banyak yang telah berhasil meraih gelar Sarjana (S1).
Warisan Perjuangan Hari ini, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan bagi para perintisnya. Bapak Bambang Sutrisno, S.E. kini melanjutkan pengabdiannya sebagai Anggota DPRD Kabupaten Kebumen selama tiga periode, sementara Bapak Keriyono, S.Pd. terus mengawal masa depan sebagai Ketua Yayasan Nurul Huda. SMP Pangeran Diponegoro berdiri tegak sebagai simbol kemenangan atas jarak dan keterbatasan, membuktikan bahwa pendidikan adalah hak yang layak diperjuangkan.